Friday, December 11, 2015

PELLA DAN GANDONG

                                                                          BAB I
                                                                PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Pasti sahabat belum terlalu paham dengan budaya pela gandong. Jadi, Pela Gandong itu merupakan suatu sebutan yang diberikan kepada dua atau lebih negeri yang saling mengangkat saudara satu sama lain. Pela Gandong sendiri merupakan intisari dari kata “Pela” dan ”Gandong”. Pela yang berarti suatu ikatan bersatu, sedangkan Gandong yang berarti bersama atau bersaudara. Jadi Pela Gandong adalah suatu ikatan persatuan dengan saling mengangkat saudara. Persaudaraan di daerah lain mungkin dianggap biasa-biasa saja, tetapi bagi orang Maluku, sebuah ikatan persaudaraan bukanlah hal yang biasa-biasa saja, melainkan suatu hal yang wajib untuk direalisasikan dalam kehidupan orang bersaudara di Maluku. Lahirlah sebuah sistem ikatan persaudaraan yaitu Pela Gandong.
RUMUSAN MASALAH
Apa itu pela dan gandong?
Bagaimana sejarah pela antara negri batu merah dan passo ? 
TUJUAN PENULISAN
Mendefenisakan pela dan gandong!
Menceritakan Tentang Sejarah Pela Antara Negri Batu Merah Dan Negri Passo!

                                                                    BAB II
                                                            PEMBAHASAN
PELA DAN GANDONG
Pengertian Pela dan Gandong
Pela berasal dari kata “Pila” yang berarti “buatlah sesuatu untuk bersama”. Sedangkan jika ditambah dengan akhiran-tu, menjadi “pilatu”, artinya adalah menguatkan, usaha agar tidak mudah rusuh atau pecah. Tetapi juga ada yang menghubungkan kata pela ini dengan pela-pela yang berarti saling membantu atau menolong. Dengan beberapa pengertian ini, maka dapat dikatakana bahwa PELA adalah suatu ikatan persaudaraan atau kekeluargaan antara dua desa atau lebih dengan tujuan saling membantu atau menolong satu dengan yang lain dan saling merasakan senasib penderitaan. Dalam arti bahwa senang dirasakan bersama begitupun susah dirasakan bersama (Adat dan Upacara Perkawinan Daerah Maluku, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Ikatan pela ini diikat dengan suatu sumpah dan dilakukan dengan cara minumdarah yang diambil dari jari-jari tangan yang dicampur dengan minuman keras lokal maupun dengan cara memakan sirih pinang. Hubungan pela ini biasanya terjadi karena ada peristiwa yang melibatkan kedua kepala kampung atau desa, dalam rangka saling membantu dan menolong satu sama lain. Dalam ikatan pela ini memiliki serangkaian nilai dan aturan yang mengikat masing-masing pribadi yang tergabung dalam persekutuan persaudaraan atau kekeluargaan itu. Aturan itu antara lain adalah: tidak boleh menikah sesama pela atau saudara sekandung dalam pela. Jika hal ini dilakukan maka akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan atau terjadi hukuman bagi yang melanggaranya.
Gandong, apakah ungkapan “ Gandong “ itu mempunyai daya perekat tersendiri  bagi angota-anggota masyarakat pela. Bahasa tanah (baca: bahasa Ambon) mengenal semacam akar kata (yang berasal dari bahasa Indonesia), dalam pemakaiannya, maka kata dasar ini sering ditambahi aksara pada bagian awal, sisipan, ataupun akhiran. Hal semacam itu dapat kita bandingkan antara kandung (dalam bahasa Indonesia) dan gandong dalam bahasa Ambon. Orang Ambon yang tadinya berasal antara lain. Dari kehidupan social di Nunusaku, sebagaai manusia Timur, jelas mempunyai orentasi yang lain dalam menentukan nama bagi suatu perserikatan antara negri-negri yang disebut pela gandong. Jadi gandong adalah rahim atau pangku, suatu pusat dan awal dari pada segala suatu yang hidup.
Jenis Jenis Pela Gandong
Pada dasaranya, terdapat tiga jenis Pela yang dapat dikelompokkan sebagai berikut :
Pela Keras. Timbulnya Pela ini dilatar belakangi oleh suatu kejadian atau peristiwa yang sangat penting untuk melawan peperangan atau pertumpahan darah. Atau pula berbentuk bantuan khusus dari suatu negeri kepada negeri lain.
Pela Gandong atau Bungso yang timbul karena adanya ikatan dan hubungan keturunan, artinya diantara pemimpin/raja satu negeri dan negeri lainnya memiliki hubungan keturunan, ataupun diantara beberapa keluarga di satu negeri dan di negeri lain menganggap diri mereka sebagai satu garis keturunan.
Pela Tempat Sirih, timbulnya pela ini setelah terjadinya suatu peristiwa yang kurang begitu penting, atau karena suatu negeri berjasa terhadap negeri lain dalam hal perdagangan maupun perdamaian.
Pela Keras dan Pela Gandong memiliki kekuatan yang sama kuat karena perjanjian ini ditetapkan dengan sumpah disertai kutukan dahsyat yang pasti dan akan tertimpa oleh salah satu pihak yang melanggar perjanjian tersebut. Terkadang perjanjian atau mengangkat sumpah itu dilakukan dengan cara memateraikan dan mengambil darah dari tubuh pemimpin kedua belah fihak kemudian meminumnya. Hubungan Pela ini dianggap sebagai suatu ikatan persaudaraan antara semua masyarakat kedua negeri yang berlangsung terus-menerus dan dijunjung tinggi sebagai suatu perjanjian suci.  Adapun hal-hal asasi yang menjadi ikatan dari perjanjian Pela ini adalah :
Kewajiban setiap negeri yang ber-Pela untuk saling membantu pada saat genting dan mendesak, misalnya; bencana alam dan peperangan.
Jika diminta bantuan demi kepentingan kesejahteraan umum, maka negeri yang menjadi Pela wajib memberi bantuan kepada negeri yang membutuhkan, misalnya; pembangunan rumah, sekolah dan tempat-tempat beribadah.
Apabila seseorang dari negeri Pela berkunjung, maka negeri yang menjadi Pela harus melayani dan memberi makan kepadanya dan ia tidak perlu untuk meminta izin membawa pulang makanan dan buah-buahan.
Semua penduduk negeri yang berhubungan Pela itu dianggap sedarah sehingga tidak diperbolehkan untuk kawin, kecuali pada Pela Tempat Sirih.
System Pela ini masih berlaku di beberapa daerah/negeri di Maluku karena rasa persatuan dan identitas bersama yang disadari dan dihayati serta diwariskan secara turun-temurun sebagai suatu perjanjian suci yang harus terus dilestarikan dalam menciptakan perdamaian di Maluku. Berkat system Pela ini, pertentangan maupun konflik antar agama semakin dapat diminimalkan.
Sejarah telah mencatat bahwa sebelum konflik agama yang terjadi di Maluku beberapa tahun silam, kerukunan antara umat beragama sangatlah kental, terlihat dari banyaknya pembangunan mesjid, gereja dan sekolah dibangun karena mendapat bantuan dari negeri Pela, baik berupa bantuan tenaga kerja, bahan bangunan, uang ataupun makanan bagi pekerja sehingga pembangunan itu dapat berjalan dengan baik tanpa adanya bantuan dari pemerintah. Dan pada saat konflik terjadi, negeri-negeri yang ber-Pela seperti; negeri Siri-Sori Islam dan negeri Haria atau antara negeri Laha dan negeri Amahusu tidak menganggapnya sebagai suatu konflik dan tidak akan melanggar perjanjian para leluhur. Untuk tetap menjaga dan menciptakan perdamaian di Maluku, maka budaya Pela-Gandong ini senantiasa dilestarikan dengan cara menyadarkan dan menghidupkannya kembali melalui generasi muda melalui bantuan dari orang tua maupun pemerintah daerah untuk mendukung dan merespon segala kegiatan maupun upacara-upacara adat diantara Pela-gandong yang ada di negeri seribu pulau ini.
Manfaat membangun perdamaian melalui Pela Gandong
Julukan Seribu Pulau yang disandang oleh Maluku adalah suatu kepatutan, selain sebagai provinsi kepulauan juga terpendam di dalamnya seribu pesona dan beragam adat istiadat, budaya dan 117-130 bahasa lokal dari suku-suku maupun sub-suku yang ada. Meskipun masyarakat di daerah ini mencerminkan karakteristik masyarakat yang multi cultural, tetapi pada dasarnya mempunyai kesamaan-kesamaan nilai budaya sebagai modal dasar kebersamaan dan persaudaraan dalam menciptakan perdamaian  di Maluku, diantaranya adalah Pela-Gandong. Pela merupakan suatu relasi perjanjian antara satu negeri dengan negeri lain baik yang terjalin antara negeri-negeri sedaratan dan berlainan pulau, juga antara etnis dan agama yang berbeda. Hubungan Pela ini mempunyai efek yang sangat penting dimana semua masyarakat turut serta menjunjung kebersamaan dan menjaga hubungan tersebut. Sebagai suatu system hubungan perjanjian atau sekutu, hubungan Pela ini telah ada sebelum bangsa Eropa mendaratkan kaki di Maluku. Hubungan ini kemudian dipererat kembali pada abad ke-16 dan 17 dalam rangka memperkuat pertahanan daerah atas serangan-serangan yang dilancarakan oleh bangsa Portugis dan Belanda. Sejak saat itu, bermunculan banyaknya Pela baru untuk melawan penjajahan Belanda yang dikenal dengan perang Pattimura pada awal abad ke-19, dan hingga kini Pela-pela itu masih berada dan dan tetap dipertahankan.
SEJARAH PELA ANTARA  NEGRI BATU MERAH DAN NEGRI PASSO
Sejarah Ringkas Negri Batu Merah Dan Negri Passo
Asal Usul Negeri Passo 
Nenek moyang penduduk asli Negeri Passo berasal dari Pulau Seram atau Nusa Ina tepatnya di daerah Hoamual. Saat itu terjadi perang besar-besaran antara  kelompok Patasiwa dan Patalima hingga penduduk yang mendiami daerah Hoamual merasa tidak aman. Akhirnya mereka melakukan perpindahan atau exodus dengan mengarungi lautan mencari daerah yang aman untuk dihuni.
Menurut orang Portugis istilah Passo berarti berada di tengah-tengah. Karena Negeri Passo terletak diantara dua jasirah yakni Jasirah Leihitu dan Jasirah Leitimur. Sedangkan menurut orang Belanda nama Passo berasal dari 2 kata yakni Pas dan So. Pas artinya surat jalan dan So artinya ya. Karena Passo letaknya strategis di persimpangan jalan maka Belanda membuat persinggahan ( pos penjagaan ) untuk memeriksa orang-orang yang datang dari daerah seberang yang melintasi Passo. Mereka harus menunjukan Pas ( surat jalan ). Jika Pas yang ditunjukan itu memang benar, maka Belanda menyebutnya dengan kata So. Akhirnya kedua kata itu menyatu dalam sebutan Passo. Sementara dalam bahasa tanah, Passo dalam arti sebenarnya ialah Paukalla artinya daerah atau tempat yang berkedudukan ditengah-tengah Jasirah Leihitu dan Leitimur sebagai pusat genting tanah Baguala ( Pulau Ambon ). Dari berbagai versi dapatlah dikatakan bahwa Passo memiliki makna berada di tengah-tengah. 
Berdasarkan hasil wawancara dengan tua-tua adat Negeri Passodapat diketahui bahwa  penduduk asli Negeri Passo terbagi atas tiga kelompok. Kelompok yang pertama datang pada pertengahan abad ke-14 dengan menggunakan buaya sebagai alat transportasi mereka. Buaya ini bernama “Pakuela” ( artinya : tertancap, tinggal dan menetap ) dan berlabuh di Pelabuhan Baguala. Setelah berlabuh rombongan ini melanjutkan perjalanan ke daerah pegunungan yaitu “Gunung Ariwakang” yang berbatasan dengan Hitu dan menetap di situ.
Asal Usul Negeri Batu Merah 
Batu Merah berasal dari tiga buah negeri yaitu Negeri Ahusen, Negeri Uritetu,Negeri Amantelu.
Negeri Ahusen kini bertempat di belakang rumah Beri-beri bekas Hotel Negara, Negeri Uritetu di kota Victoria, dan Negeri Amantelu di belakang negeri Halong Utang. Semasa penjajahan dulu yaitu sekitar tahun 1600. Pada saat mereka bertempat tinggal di Batumerah, jadi Batumerah sudah ada sebelum tahun 1600. Pada saat itu mereka bergabung mejadi satu dalam rangka pembuatan kota Ambon da Beteng Victoria. Kenyataan atau bukti bahwa Batuerah merupakan Negeri asli dan bukan pendatang yaitu karena Batumerah ada mempunyai sifat-sifat (Batas-batas) petuanan Negeri yang dibuat pada masa Prof. Ranpis antara lain adalah:
Batas dengan Negeri Halong yaitu Kali Way Ruhu.
Batas dengan Negeri Rutong/Hutumuri yaitu Nani Cap.
Batas dengan Negeri Ema yaitu Batu Bulan.
Batas dengan Negeri Amahusu yaitu Batu Capeo/Kali Mati
Latar Belakang Pela Antara Negri Batu Merah Dan Negri Passo
Sebelum Portugis hadir di Maluku, kerajaan ternate berhasil menguasi Maluku, Irian bahkan sampai ke Filipina.
Sultan Ternate mengeluarkan intruksi atau surat perintah kepada negri-negri yang di kuasainya untuk mengantar upeti ke Ternate setiap tahun. Pada tahun 1506 berangkatlah dua buah kora-kora ke Ternate yaitu, kora-kora Passo mewakili patalima dan kora-kora Batu Merah mewakili Patasiwa.sekembalinya dari Ternate di lautan pulau Buru, angin bertiup dengan kencang dan ombak besar silih berganti, kora-kora Passo tenggelam sayap-sayapnya di hantam badai dan gelombang, terdengar suara minta tolong, tolong, tolong, tolong. Pada saat itu kora-kora Batu Merah berada di belakang kora-kora Passo, lalu merapat menolong orang Passo yang tenggelam di bawah merapat ke tepi pantai Pulau Buru dekat sebuah Tanjung, tagalaya ( tempat makan orang-orang Passo) hilang lenyap di dalam laut. Tagalaya orang-orang Batu Merah di buka dan mereka duduk makan bersama di tepi pantai, sagu salempeng, berpatah dua ikan seekor di bagi dua, kelapa sabuah di bela dua.
Sehabis makan orang-orang Passo angkat bicara dengan air mata yang berlinang  “Wahai saudara- saudara orang Batu Merah, kamong su tolong katong, akapah katong bias angkat kamong sebagai pela kaka ?. suara spontang orang-orang Batu Merah menjawab dengan penuh kasih, “ bias, dan katong angakat kamong sebagai pela ade”. Lalu mereka pun bersumpah: (  isi sumpah) !. untuk mengabdikan sumpah mereka itu agar kelak kekal selama lamanya, mereka membalik sebuah batu karang di tanjung tersebut, tanjung itu disebut tanjung pela. Akibat membalik batu karang itu, maka jari-jari mereka berdarah dan jari-jari yang berdarah itu di satukan dan mereka meengucapkan perjanjian suci, yang terdiri dari :
Orang Passo dan orang Batu Merah tidak boleh baku kawin
Orang Passo dan Orang Batu Merah tidak boleh baku musuh
Orang Passo dan Orang Batu Merah harus tolong menolong satu sama lain.
Perjanjian yang sacral, agung dan mulia ini di pelihara dan di jaga oleh datuk-datuk nenek moyang Passo dan Batu Merah sampai turun temurung dan di lestarikan dari generasi kegenerasai sampai dengan generasi masa kini.
Ya….. Tuhan yang maha kasih, janganlah engkau cabut perasaan kasih di antara kami, semogakasih ini bersemi selalu di kami sampai akhir zaman nanti.
"Pela Gandong tersebut, harus dilaksanakan guna mempererat hubungan persaudaraan sejati yang terbina antara masyarakat  negeri adat ini yang telah diwarisi leluhur mereka secara turun temurun sejak 1500 Masehi. Panas Pela Gandong terakhir kalinya dilaksanakan tahun 1960-an lalu dan setelah itu tidak lagi. Makanya sudah harus dilaksanakan kembali sehingga generasi negeri itu saat ini bisa mengingatnya, ritual adat Panas Pela Gandong khususnya antara Negeri Batu Merah dan Passo akan dilaksanakan di Tanjung Pela, Pulau Buru, yang merupakan lokasi pertama hubungan persaudaraan itu diikrarkan tahun 1.500 Masehi. Tanjung Pela lebih dikenal masyarakat Maluku dengan sebutan Tanjung Keramat, merupakan tempat awal terjadinya Ikatan sumpah antara tokoh adat dua negeri ini sebagai kakak-beradik. Tujuanya agar generasi muda mengetahui bahwa di Tanjung Keramat itu moyang-moyang dua negeri ini mengangkat sumpah janji sebagai Kakak dan Adik".
Jenis dan Hukum Pela di Negri Antara Batu Merah Dan Passo
Walaupun ikatan persaudaraan kedua negri hanyalah melalui suatu upacara adat mengangkat sumpah menjadi saudara namuun mereka selalu menganggap sebagai gandong “kakak beradik bukan rahim”
Larangan kawin antara kedua anak negri merupakan satu-satunya  janji bagi generasi waktu itu hingga sekarang, dan yang akan dating.
Sanksi adat tidak jelas dalam bentuk yang bagaimana. Namun selalu di tandai tidak di tandai mempunyai keturunan atau salah satu, suami atau istri meninggal dunia.
                                                                 BAB III
                                                               PENUTUP

KESIMPULAN
Suatu warisan budaya, seperti halnya dengan budaya pela dan gandong yang dilakukan oleh negri Batu Merah dan negri Passo yang terjadi pada zaman dahulu sampai sekarang masih ada dan masih di implementasikan oleh kedua negri tersebut, walaupun ada perbedaan agama antara negri-negri tersebut. Pasca konflik Ambon 1999 ikatan pela tersebut masih berjalan dan ada pertemuan antara tokoh-tokoh adat yang saling berkerja sama yang pernah di lakukan oleh kedua Negri tersebut baru-baru ini.
Selain itu, sikap masyarakat negri-negri adat tersebut berperan penting dalam usaha perdamain antara umat beragama pada saat konflik di Ambon satu decade lalu.
SARAN
Dengan adanya penulisan ini, maka penulis juga mengharapkan agar sesalu mempertahankan hubungan pela dan gandong antara sesama masyarakat.


                                                      DAFTAR PUSTAKA

>
Baenur. Umur 65 Tahun , Raja Negri Passo yang Merupakan Ahli Sejarah Di Negri Passo. (Passo: Wawancara , 25 November 2015). Pukul 10.00 WIT.
Dokumen Sejarah .Pemerintahan Negri Passo Dan Pemerintah Negri Batu Merah.
Pattiruhu.1997. Seri Budaya Pela- Gandong Dari Pulau Ambon. Lembaga Kebudayaan Daerah Maluku Ambon.
Http://aranscavanessa.blogspot.co.id/2014/05/makalah-kebudayaan-pela-gandong-di.html (diakses pada 30 November 2015)



2 comments:

  1. Slots - Casino Poker - CasinoTaratodos
    The casino 실시간 바카라 offers more than a 축구토토 dozen slot machines. 해외 토토 사이트 If 토토 꽁머니 you have a question about playing them, we 아시아 게이밍 are available at SlotTaratodos.com.

    ReplyDelete
  2. How much is a blackjack table worth? - Dr.MCD
    A blackjack table worth $1,000 and another $15,000, all in. The tables are 김제 출장샵 worth $1,000. 의왕 출장샵 There is 동해 출장샵 also 속초 출장마사지 a 익산 출장마사지 variation on the classic Blackjack game of roulette.

    ReplyDelete